Tips Public Speaking

Ternyata, awalnya dipaksa TAMPIL!

Ternyata, awalnya dipaksa TAMPIL!

“alah bisa karena biasa, alah bisa karena terpaksa”

Anda tentu tak asing bukan dengan pepatah tersebut? Menurut pepatah tersebut, satu aktivitas yang awalnya sulit akan menjadi mudah dan bisa jika kita biasakan. Bahkan pada mulanya proses pembiasaan pun melewati fase keterpaksaan. Ada yang mengalami hal tersebut?

Ada satu cerita yang ingin saya bagikan terkait hal tersebut. Kali ini spesial, karena cerita yang saya angkat berasal dari pengalaman istri saya sendiri, Nurul Fadhilah.

Nurul merupakan sosok yang unik, dia adalah sosok yang mudah jika disuruh tampil di depan umum. Setiap kali ikut seminar, hampir dipastikan dia membawa pulang hadiah karena sudah bertanya atau maju ke depan. Ketika ada momen pernikahan, dia pun selalu mencoba untuk tampil dan bernyanyi.

Ini salah satu contohnya http://bit.ly/MeetAndGreetRAJeans.

Sempat saya berpikir, hadirnya kepercayaan diri seseorang tentu selalu ada akarnya. Akhirnya saya pun coba menggali kepada istri tentang pengalamannya di masa lalu.

Ternyata, ada satu alasan yang membuat dia menjadi berani tampil dan ketagihan untuk maju ke depan umum. Saat Nurul masih kecil, Mbahnya (nenek) selalu memaksa Nurul untuk tampil.

Apa pun momen yang hadir, Mbahnya Nurul selalu support untuk maju. Dari mulai lomba busana muslim, lomba nyanyi dan lainnya.

Pada awalnya memang risih, malu bahkan bingung mesti melakukan apa. Namun seiring berjalannya waktu, Nurul pun mulai menikmati proses dan akhirnya malah menikmati momen untuk tampil.

Yes, keterpaksaan yang dulu Nurul rasakan kini malah berbalik menjadi kenyamanan yang Nurul nikmati.

Steven Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People pernah mengatakan, “to change ourselves effectively, we first had to change our perceptions.”

Secara tidak sadar, pengalaman demi pengalaman yang Nurul lakukan telah membuatnya memiliki persepsi yang baru. Persepsi apa saja?

Persepsi bahwa tampil di depan umum itu menyenangkan, Persepsi bahwa berbicara di depan umum itu berbagi kebermanfaatan. Persepsi bahwa tampil di depan umum itu memberikan kebahagiaan. Persepsi baru yang akhirnya membuat Nurul semakin efektif dan menikmati panggungnya.

Boleh jadi, hambatan Anda untuk tampil selama ini adalah persepsi negatif yang membuat Anda enggan untuk mencoba. Lalu, mau sampai kapan persepsi negatif tersebut anda pertahankan?

Yuk, mulai biasakan untuk tampil dan ciptakanlah persepsi positif dalam benak Anda.

Selamat berlatih.

With love,

Fauzi Noerwenda 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *